Review Asus ROG Zephyrus GX501VI – Awal Punahnya Laptop Gaming Super Berat?

Filosofi Max-Q merupakan konsep baru untuk produk gaming notebook yang menawarkan solusi berimbang antara portabilitas dan performa. Sebelumnya, calon pengguna yang ingin lebih mobile dalam melakukan komputasi seringkali galau. Karena jika menginginkan performa, bonusnya adalah chassis yang tebal dan kipas yang berisik. Kalau menginginkan yang slim dan tidak berisik, tidak mungkin notebook tersebut punya performa yang tinggi.

Nvidia Geforce Max-Q Indonesia FIMax Q menjadi mungkin karena optimasi dari sisi hardware dan software. Di sisi hardware, Nvidia dan partner akhirnya menemukan “sweet spot” dimana GPU bekerja se-efisien mungkin. Yang artinya, ia melepas panas seminim mungkin. Dan akhirnya, tak membutuhkan debit udara yang tinggi dari sebuah fan yang harus berputar kencang. Hal besar yang dilakukan adalah memangkas TDP dengan penyesuian GPU clock dan turbo clocknya. FYI, GTX 1080 Max Q di seting pada TDP 90 Watt hingga 110 Watt, tergantung desain chassis dan performa cooling system notebook yang mengaplikasikannya. Ini membuat performanya jatuh, hampir mendekati sebuah GTX 1070 versi notebook.

Dari sisi software, Nvidia memperkenalkan Intelegent frame Pacing. Optimasi yang memungkinkan hardware bekerja hanya pada level FPS tertentu, yang diyakini merupakan titik paling seimbang antara kualitas gameplay dan performa GPU yang harus di keluarkan. Nvidia juga memperkenalkan satu fitur baru dalam Geforce Experience mereka yakni Whisper Mode. Fitur yang jika diaktifkan, juga akan kembali mencari experience gameplay terbaik dengan parameter noise level dari putaran kipas yang dibawah standar Max-Q yakni di bawah 40db.

ASUS ROG Zephyrus GX501VI PCNLalu, kenapa kita harus bayar mahal untuk sebuah GTX 1080 yang performanya dibatasi? Nah, kebetulan, kita di pinjamkan sebuah laptop yang sudah menggunakan filosofi Max Q design ini. Mari kita cari jawabannya pada Asus ROG Zephyrus GX501VI kali ini.

Spesifikasi dan Harga Asus ROG Zephyrus GX501 di Indonesia

Terobosan paling signifikan yang diperkenalkan Asus lewat Zephyrus adalah mengemas sebuah GTX 1080 ke dalam chassis dengan ketebalan tak sampai 18mm. Walau Nvidia mengklaim, banyak hal yang menjadi mungkin dengan filosofi Max Q design ini selain penggunaan chassis yang tipis. Tapiii, untuk sebuah produk di fase premiere, yang paling dikhawatirkan adalah, kemungkinan adanya malfunction. Nah, mari lihat. Apakah ada sesuatu yang aneh pada Zephyrus yang datang ke Pemmzchannel?

Design & Handling

Asus ROG Zephyrus New design PCNDi desain jauh berbeda dari semua jajaran ROG yang pernah ada. Dalam keadaan tertutup, Zephyrus terlihat lebih classic dan keluar dari pakem ROG. Siluetnya mirip dengan chassis Razer atau macbook pro yang lebih disukai pribadi yang profesional. Tapi yang membuat kesan gamingnya keluar adalah tekstur brush almunium asymetris pada cover LCD, juga logo ROG yang tampil baru dengan backlit lebih temaram mirip spyder eyes-nya spiderman.

Di bagian dalam, bezel lcd belum di buat slim seperti keluarga ultrabook terbaru mereka. Mungkin memang masih membutuhkan dimensi chassis full 15.6-inch untuk mengakomodasi ruang sirkulasi udara. Terutama bezel bagian bawah yang langsung terkonversi ke dimensi lebarnya hingga mencapai 262mm. Pesaing terdekatnya yakni MSI GS63VR (non-Max Q), hadir lebih compact dan ringan dengan dimensi lebar 249mm serta berat 1,9 KG. Sementara untuk bobot GX501VI ada di kisaran 2,2 KG. Tapi menurut pemmzchannel, angka ini masih sulit untuk dipercaya jika melihat ada sebuah GTX 1080 di dalamnya.

  • Workstation

Asus ROG Zephyrus GX501VI workstation PCNAkan ada dua pendapat jika anda melihat susunan workstation pada GX501, terlihat unik atau terlihat aneh. Keyboard yang pindah ke bawah juga touchpad yang pindah ke sebelah kanan keyboard sebenarnya bukan hal yang baru. Vendor lain sudah ada yang menerapkannya. Nah, dibagian atas keyboard ini merupakan bagian yang sepintas tidak fungsional sama sekali. Tapi setelah kita ikut tekhnikal seminar tentang GX501 pada acara Edge of Beyond kemarin, baru kita bisa pastikan, area ini didedikasikan sebagai area cooling system.

Baca juga : ASUS ROG GX501 Zephyrus Jadi Primadona di Acara The Edge of Beyond

Menggunakan keyboard ROG GX501 amatlah menyenangkan, posisi keyboard yang mendekat kepengguna ini memang bertujuan memberikan experience yang menyerupai desktop PC. Dimana posisi keyboard agak jauh dari posisi layar. Tuts memberikan feedback yang tactile walau belum mengadopsi mechanikal switch. Ada dua hal yang sedikit mengganggu terkait design keyboard. Pertama dimensi tutsnya yang persegi memang butuh sedikit pembiasaan. Tapi setelah jari-jari anda punya sensor otomatis, jadi enak banget deh ni keyboard baik untuk penggunaan edit dokumen maupun gaming. Kedua, bagian palm pada telapak tangan mudah pegal karena tidak mendapat support yang baik. Nah, Tapi yang kedua, paket penjualan Zephyrus hadir dengan palm rest khusus. Hal ini biasa di lakukan juga oleh produsen-produsen keyboard gaming mechanikal yang mengejar dimensi compact.

Fitur gaming? Pastinya.. lengkap. RGB Backlit dan anti-ghosting bisa anda dapatkan pada keyboard Asus ROG Zephyrus GX501VI. Tapi untuk layout jika diperhatikan memang ada yang aneh. 4 tombol fN, yakni f1 hingga f4 posisinya terpisah dari tombol esc dan f5 ke atas. Masih menurut tim technikal Asus, hal ini diharapkan membantu pengguna untuk lebih cepat menemukan tombol 1 yang paling sering digunakan untuk switch ke primary weapon. Hmm.. Ok!!!

Touchpad nya ini mirip MSI GT83VR yang menawarkan dual function dalam satu area. Anda bisa gunakan sebagai touchscreen num pad, atau standar touchpad dengan menyentuh tombol di sebelah tombol shortcut ROG Gaming Center.

  • Audio System

Asus ROG GX501 Zephyrus menggunakan konfigurasi audio output 2.0. Dua buah front speaker ditempatkan persis di sebalah kanan kiri keyboard. Unit yang kita review nampaknya sedang tidak dalam kondisi terbaik. Karena sejak awal, bahkan saat notifikasi volume, suara terdengar pecah. Kita sempat paksa untuk mereproduksi suara, hasilnya tidak ditemukan lagi suara pecah tadi. Tapi kualitas suaranya belum bisa kita bilang bagus. Nampaknya dimensi chassis yang tipis memaksa GX501 untuk melupakan sub-woofer.

  • Display Panel

Menurut tim tehknikal-nya, Asus punya target menjadikan GX501 sebagai desktop PC replacement terbaik dan terlengkap. Selain positioning keyboard, Asus juga coba mewujudkan Diplay panel high-end yang biasa menemani enthusiast gamer ke dalam Zephyrus. Untuk itu, Zephyrus dilengkapi panel 15.6-inch buatan AUO seri B156HAN04.2  yang punya spesifikasi resolusi 1080p, refresh rate 120Hz dan mendukung G-Sync. Lalu bagaimana kualitas warna, contrast ratio dan brightness-nya?

Panel display buatan AUO bukan tipikal yang menawarkan brightness tinggi sekali. Agak di sayangkan karena laptop ini menjual portabilitas yang mungkin akan banyak di gunakan di luar ruangan. Tapi ia punya level contrast yang tinggi, special untuk panel yang di pakai GX501, contrast rationya tinggi sekali. Tambah lagi, ia menawarkan 100% sRGB ini membuat gradasi warna terlihat lebih lebar. Efeknya, ia mampu menampilkan tayangan film kelas bioskop dengan amat mewah. Juga visual game dengan detail yang nyaris sempurna.

Material & Build Quality

ASUS ROG Zephyrus material PCNWajar, jika Zephyrus menjadi hype di banyak kalangan. Bahkan, menutupi gimmick yang meneror Nvidia Max-Q Design kala Jensen Huang memperkenalkannya di ajang Computex 2017 Juni lalu. Merupakan tantangan besar mencapai nilai yang solid pada sebuah produk laptop dengan ketebalan 17.7mm, itu mengapa Asus menggunakan bahan jenis magnesium untuk Zephyrus. PVC mungkin mudah dibentuk, tapi semakin luas bidang yang tercipta, PVC bahkan lempeng almunium standar akan menciptakan garis lengkung saat dituntut lebih tipis. Magnesium cukup kuat dan sekalipun di bentuk jadi lembaran yang luas, ia akan tetap lurus dan rata. Jika jika mengalami tekanan, ia akan selalu kembali kebentuk semula.

Performa – Dimana posisi GTX 1080 Max Q?

Mari lihat spesifikasi yang di bawa GTX 1080 Max Q design. Dibanding GTX 1080 versi standar, pemangkasan CPU clock yang di seting menjadi 1,101MHz hingga 1,290MHz dan boost clocks mulai dari 1,278MHz hingga 1,468MHz. Selain itu, semua identik mulai dari jumlah transisor, CUDA core, hingga Memory clock. Sekaligus merevisi perkiraan kita waktu itu, yang ternyata GTX 1080 versi Max Q menggunakan GDDR5X, sama seperti versi standarnya.

Semua benchmark sintetis berjalan dengan smooth banget dengan hasil yang sudah diperkirakan yakni sedikit di atas GTX 1070 8GB GDDR5. Ya, sedikit sekali yang jika di rata-rata, tepatnya ada di angka 5% an. Tapi melihat konsumsi dayanya yang 40% lebih rendah dari GTX 1080 standar,  membuat GTX 1080 Max Q menghisap daya

Temperaturnya Gimana?

Ok, test bad yang kita lakukan, dengan me-looping Resident Evil selama 30 menit, menunjukan angka tertinggi CPU ada di angka 95 derajat celcius. Sedangkan untuk GPU, ada di angka 80 derajat celcius. Kalau kita hanya melihat angkanya, pasti sudah ngeri-ngeri sedep dengernya. Tapi, ternyata keadaan ini agak berbeda dari yang di dapatkan tim media lain. Usut punya usut, nampaknya unit yang datang ke pemmzchannel tidak dioptimasi maksimal. Diluar itu, jika kita mempertimbangkan dari klaim Nvidia terkait Max-Q, angka ini bisa jadi boomerang.

  • ACTIVE AERODYNAMIC SYSTEM (AAS)

Asus ROG Zephyrus Exhaust PCN

Desain yang tipis tentu punya konsekwensi berat di sisi ruang sirkulasi udara. Di sini, Asus mengakalinya dengan membuat bottom case berfungsi layaknya organ insang pada Ikan. Dengan membuat plat bottom case ini terkuak, dua buah kipas pendingin akan mampu meraup udara segar sebanyak-banyaknya. Begitupun heatpipe, lebih punya ruang untuk mendorong panas sebanyak-banyaknya. Sebagai informasi, Nvidia Max Q design masih bisa sedikit di dorong jika di dukung oleh kemampuan cooling system yang mumpuni.

Nvidia Whispering Mode

To be exact, kita sendiri belum bisa membuktikan bahwa fitur ini berjalan sesuai harapan atau tidak. Bahkan, kita sedikit menaruh curiga fitur ini yang menyebabkan temperatur melambung tak terkendali. Karena, ia juga tergantung pada desain kipas terutama bagian baling-baling. Boleh kata Nvidia bisa mengontrol putaran kipas sesuai load, tapi dengan desain baling-baling yang tidak optimal dalam mendrive udara segar, fitur inipun akan jadi tidak maksimal.

Conclusion

Simak kesimpulan kita pada video di atas ya bro.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan