2018: Google Assistant dan Alexa Berambisi untuk Ada di Mana-mana

Ilustrasi Voice Assistant (kredit: Pexels)

Di belahan bumi lain, tepatnya di Amerika Serikat dan Eropa, ada semacam obsesi untuk menerapkan penggunaan vocie assistant di mana-mana. Google Assistant dan Alexa menjadi dua dari sekian banyak nama yang berambisi untuk mencapai tujuan tersebut.

Untuk kasus Google, ambisi mereka terlihat jelas di ajang CES 2018 yang sudah dihelat Januari silam. Di sanalah raksasa mesin pencari itu berusaha keras mencuri perhatian, sekaligus menunjukkan kemungkinan perluasan fungsi Google Assistant milik mereka, dengan cara merilis Google Home Mini, sebuah perangkat speaker cerdas yang terintegrasi langsung dengan layanan Google Assistant.

LG Gaming Monitor Campaign

Yah … ambisi mereka tampaknya bisa kita artikan sebagai usaha keras untuk mengejar Alexa bikinan Amazon, yang di pasar luar negeri sedang menikmati dominasi di bidang speaker cerdas yang dikontrol dengan suara.

Amazon memang sedang berada di depan. Di CES lalu mereka telah mengumumkan kerjasama dengan beberapa vendor termasuk Toyota, Vuzix, dan Kohler. Sudah bisa ditebak bahwa mereka akan mengedepankan kemampuan Alexa dalam hal penyediaan fitur voice assistant di kendaraan tertentu (Toyota), kacamata cerdas (Vuzix), dan … hmmm … toilet cerdas (Kohler).

Lalu kita semua sudah tahu bahwa ponsel Android yang kita pegang sudah membenamkan fitur Google Assistant, yang mempermudah kita ketika ingin, misalnya, menelpon beberapa orang di dalam kontak telpon. Cukup menyebut kata tertentu, dan kita langsung terhubung dengan orang yang diinginkan.

Pertarungan antara Amazon dan Google pada dasarnya memperlihatkan betapa kedua perusahaan tersebut berusaha keras untuk memperkenalkan peran voice assistant di dalam hidup digital manusia. Mungkin keduanya juga sudah sepakat, karena mereka sama-sama mengeluarkan satu pernyataan penting: masing-masing voice assistant andalan bakal diimplementasikan lebih dalam lagi ke beberapa jenis perangkat termasuk mobil, earbuds, maupun ruang rapat di sebuah kantor. Jadi, asisten suara bakal tersedia untuk mempermudah hidup manusia di manapun dan kapanpun – bahkan di toilet!

Setidaknya di pasar luar negeri, voice assistant telah membangun jumlah penggemar yang signifikan, karena di sana perangkat dengan fitur tersebut bisa berfungsi untuk mengontrol berbagai macam perangkat smart home. Dengan fitur tersebut, orang sana bisa memainkan musik atau mengoperasikan lampu dengan hanya memainkan perintah suara tertentu.

Dan penerapannya pun meluas. Samsung, misalnya, punya Bixby yang fungsinya sama seperti Alexa maupun Google Assistant. Pengguna smartphoen Samsung bisa memanfaatkan fitur Bixby untuk mengontrol sejumlah perangkat elektronik dan TV buatan Samsung. Jadi, masa depan orang-orang Eropa dan Amerika Serikat tampak tidak bisa dipisahkan dari keberadaan smart assistant yang membantu mereka mengontrol kehidupan dengan cara seringkas mungkin. Lalu bagaimana dengan hidup digital orang-orang Indonesia?

Keberadaan smart assistant di Indonesia

Tahun 2016 silam, CNN Indonesia merilis sebuah kabar yang menyebut bahwa penelusuran menggunakan suara Bahasa Indonesia naik hingga dua kali lipat dibanding tahun 2015. Setahun setelahnya, Google merilis Google Assistant yang memberi dukungan teknis untuk suara Bahasa Indonesia, dan ini terjadi pada bulan Juni 2017.

Jadi secara kasat mata, penggunaan voice assistant sudah tumbuh di Indonesia, walau kami tidak tahu seberapa sering ia dipakai dan apakah ia punya posisi krusial di ranah kehidupan digital orang-orang Indonesia. Rasanya kita belum bisa menemukan sebuah produk mobil di Indonesia yang bisa dihidupkan menggunakan suara, bukan?

Namun satu hal yang pasti: voice assistant pada dasarnya adalah sebuah fitur yang memudahkan orang untuk memanfaatkan sesuatu tanpa perlu bersusah payah. Meski menarik, namun di Indonesia implementasinya di kehidupan sehari-hari masih perlu dilihat di masa depan.