Voice Assistant: Sedikit Sejarah dan Mengapa ia Jadi Penting

Ilustrasi Voice Assistant (kredit: Pixabay)

Windows 10 punya Cortana, Google punya Google Assistant, sementara Apple punya Siri, dan pesaingnya, Samsung, punya Bixby. Semuanya menawarkan satu fitur yang disebut Voice Assistant. Kamu cukup memberi perintah suara, dan perangkatmu akan membantu melakukan banyak hal, mulai dari panggilan keluar, sampai mencari topik penting di internet.

Sejarah Voice Assistant

Orang yang menggandrungi segala macam berita seputar teknologi mungkin sudah bisa melihat beberapa macam produk smart speaker (Amazon Echo, misalnya) yang memiliki fitur voice assistant. Namun revolusi Voice Assistant sebetulnya bergulir jauh sebelum era serba AI seperti sekarang.

LG Gaming Monitor Campaign

Revolusi macam itu dimulai di era 1960-an, persisnya ketika IBM memperkenalkan fitur tersebut melalui produk yang disebut Shoebox. Itulah era di mana voice assistant pertama kali diperkenalkan lewat teknologi pengenal suara paling primitif dalam sejarah komputasi, di mana produk tersebut bisa mengenali 16 jenis kata dan 9 digit nomor.

Revolusi berlanjut di era 1970-an sampai 1990-an, di mana pada rentang tersebut Harpy Program di tahun 1970-an. Program tersebut diselesaikan oleh Carnegie Mellon dan mampu mengenali sekitar 1000 kata.

Sayangnya baik Shoebox maupun Harpy Program bukan jenis produk yang dirilis untuk pasar. Baru pada tahun 1990-an produk voice assistant muncul dan benar-benar dijual untuk publik. Adalah aplikasi Dragon yang ketika itu membuka jalan bagi kemunculan software yang mampu mengenali suara dan transkripsi. Lalu di era yang sama muncul Clippy, yang merupakan asisten virtual berbasis teks yang menunjukkan bahwa bahasa di dalam teks bisa dilacak, diterjemahkan, sekaligus jadi basis untuk feedback yang sifatnya interaktif.

Sayangnya, keduanya tidak begitu populer dan memang tidak pernah populer.

Pergeseran mulai terjadi pada tahun 2011 dan setelahnya, terutama ketika Apple memperkenalkan Siri ke publik, yang khusus diciptakan untuk perangkat berbasis iOS dan MacOS.

Antara 2012 – 2013, muncul Google Now yang merupakan produk Google di bidang voice assistant. Kemunculannya diikuti oleh Cortana, yang diumumkan oleh Microsoft di antara tahun 2013 – 2014 di sebuah konferensi untuk pengembang.

Kemunculan Google Now, Siri, dan Cortana tak pelak menandai era di mana voice assistant mulai merambah ke produk pengeras suara. Setelahnya, persisnya pada tahun 2014, Amazon memperkenalkan speaker pintar Echo dan voice assistant yang bernama Alexa. Sehabis itu, jumlah produk Smart Speaker meningkat tajam, yang di saat bersamaan memunculkan Voicebot.ai.

Lalu, Kenapa Voice Assistant jadi Penting?

Amazon Echo
Amazon Echo (Kredit: Wikipedia)

Para pengguna ponsel pintar berbasis Android tentu sudah paham bahwa Google Now bahkan sekarang bisa membantu orang untuk memanggil nama kontak tertentu di buku telpon di ponsel mereka. Cukup dengan mengeluarkan perintah suara tertentu, pengguna ponsel itu sudah bisa terhubung dengan aplikasi Phone Call tanpa perlu menyentuh layar. Meski apa yang kami jabarkan hanya mencakup sebagian kecil dari fungsi voice assistant, namun keberadaannya sebagai pembantu yang setia mendengarkan perintah kita tentu tidak bisa diremehkan.

Kita juga tidak bisa memungkiri hal lain: voice assistant selama ini sifatnya eksklusif dan hanya terbatas pada perangkat independen yang kecil dan dibatasi oleh merk (Google Now tentu jadi milik Google, yang rasanya mustahil bisa nongol di produk smartphone berbasis iOS).

Nah, di titik ini, kehadiran Smart Speaker dengan voice assistant-nya tentu membuat batas asisten suara menjadi lebih luas lagi. Kini, teknologi tersebut tidak dibatasi oleh perangkat yang idenpenden, melainkan agaknya bakal jadi sesuatu yang akrab dengan lingkungan kita yang penuh dengan perangkat komputasi yang mempermudah kehidupan.